Sebenarnya
apa yang terjadi pada Intelektual?
Generasi
adalah asset terbesar dibanding dengan asset-aset Negara lain, terutama
generasi intelektual. Apabila generasi
baik maka sebuah Negara akan maju karena memiliki calon pemimpin yang pandai
dan cerdas. Namun, apa yang terjadi dengan generasi sekarang? Yang ada sekarang
di tengah-tengah kita adalah generasi pragmatis yang lahir dari pendidikan yang
pragmatis. Yang akhirnya absen dari visi negara berkembang.
Apa yang dipikirkan Intelektual
sekarang??
Kalau
saya boleh bertanya, kira-kira setelah kita lulus atau menyandang sebuah
gelar, pertanyaan yang sering muncul nich
pada kita diantaranya, ”Sibuk apa?
Kerjanya dimana? Atau gajihnya berapa?” Atau mungkin jauh-jauh hari sebelum
kita menentukan program study saat mau kuliah, maka sering kali prospek kerja yang
menjadi hal pertama dalam pertimbangan. Maka jangan kaget, jika akhirnnya
tuntutan industry/perusahaan yang menderai cita-cita intelektual. Kalau boleh
dikatakan sekarang pragmatisme benar-benar
semakin nyata, bercokol dibenak para intelektual.
Seharusnya
sikap seorang intelektual itu menggunakan seluruh ilmunya untuk menjawab seluruh
permasalahan masyarakat, “Sebenarnya masyarakat
itu sekarang masalahnya apa? butuh apa?”.
Tapi yang ada saat ini, para intelektualnya sibuk berfikir “Perusahaan itu butuh apa?”. Betul nggak
sich?! Dan pada akhirnya disadari ataupun tanpa disadari, dia sendiri yang menjadi
pekerja barat yang notabennya perusahaan yang ada di indonesia adalah
perusahaan asing. Mereka bukan lagi orang yang akan mengurusi rakyat.
Dan
kalaupun ada intelektual yang ideal, yang ingin berkontribusi bagi masyarakat, namun
pada sisi lain dia mengalami kesulitan mengakses teknologi, kesulitan mendanai
riset karna pemerintah tidak memfasilitasinya. Dan pada akhirnya mereka
mengatakan “Udahlah ngga’ usah
ngarep-ngarep pemerintah!! Udalah yg penting kita bisa apa ya lakukan aja!.”
Dan saking bencinya dengan kebijakan-kebijakan yang menghambat dia, untuk
akhirnya berkontribusi, dia menciptakan sikap yang apolitis dia mengatakan, “Udalah politik itu kotor!hanya mengurusi
kekuasaan.” Tidak cukup apolitis saja bahkan mereka juga bersikap apatis,
merekapun cenderung focus pada keahlihannya, dan yang terjadi tanpa sadar dia yang
menjadi pemadam kebakaran. Maksudnya apa? Lihat saja, minyak, tambang kita
dikuasai, seluruh kekayaan alam kita dikuasai oleh asing, sampai-sampai tak
sedikitpun tersisa untuk rakyat, dan yang alin ironisnya lagi rakyat mengemis
sumber daya alam ditengah berlimpah ruahnya sumber daya alam Indonesia. Lalu
intelektual berfikir keras untuk membuat energy terbaru sebagai penggantinya,
mulai dari sumber gas, air laut, surya dan lain-lain. Akhirnya orang-orang yang
menjual sumber daya alam mengatakan “Tenang
ajalah ada ITS, ada IPB, ada para intelektual yang akan menyiapkan energy
penggantinya. Kita kuasai dan eksploitasi habis-habisan saja sumber daya
alamnya”.
Sekarang
bayangkan saja, andaikata orang-orang intelektual tadi masuk dalam pemerintahan
dalam kondisi apolitis dan apatis, yang terjadi
adalah mereka akan menghasilkan solusi-solusi yang ngga’ kalah pragmatis, yang
membuat rakyat semakin menangis. Misakan, seorang intelektual butuh dana untuk
riset, tidak ada duitnya(dalam artian pemerintah tidak mau mendanai) dengan
alasan APBNnya kurang. Akhirnya mereka(orang-orang
yang masuk pemerintahan) yang membuka keran pemodal asing supaya masuk dan
mereka sendirilah yang akan membuat undang-undang penanaman modal asing, dan
mereka jugalah yang membuka gerbang untuk adanya penjajahan sumbur daya alam di
bumi pertiwi ini. Dan sekarang bayangkan lihat blok cepu dikuasi Exon mobile, Emas
kita di Papua dikuasai ole Freeport dan hanya 1 persen yang dikasihkan ke
indonesia.
Sungguh
sangat lucu sekali, masih ingat dengan SeaGames?? Lucu ngga’ sich!? Indonesia sibuk
memperebutkan medali emas yang ngga' seberapa nilainya dibandingkan dengan gunung
emas yang ada di Papua. Aneh kan!? Gunung emas ngga’ ada yang ngeributin, ngga’
ada upaya untuk merebutkannya. Tapi, emas yang secuil saja direbutkan, sampai
dibela-belain. Lupakah!? Emas kita, batu bara kita, gas kita, minyak bumi kita
yang dikuasai oleh asing!!.
Sebagaimana
arus pragmatisme itu masuk dibenak-benak para intelektual, maka yang terjadi
adalah kerusakan. Sehingga kerusakan yang
dilakukan oleh para intelektual itu akan membawa kerusakan yang luar biasa
karna mereka pada dasarnya orang-orang yang pintar, orang-orang yang tau
ilmunya tetapi ilmunya disalah gunakan.
Sadarlah Wahai Intelektual!!
Abu Nu’aim menyatakan bahwa Nabi
mengatakan, “Dua macam golongan manusia
yang apabila keduanya baik maka akan baiklah masyarakat. Tetapi, apabila
keduanya rusak maka akan rusaklah masyarakat itu. Kedua golongan manusia itu
adalah orang-orang yang berilmu(termasuk intelektual) dan penguasa.” Karenanya,
intelektual harus memerankan diri dalam rangka kebaikan masyarakat, termasuk
meluruskan penguasa dan menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah.
Diantara aktivitas yang dapat
diperankan intelektual adalah :
1.
Mengedukasi umat. Intelektual terus melakukan
pembinaan di tengah-tengah umat sehingga muncul orang-orang yang berkepribadian
islam. Umat dibina perilakunya dengan ilmu yang dimilikinya dipraktikkan dan
selalu dikaitkan dengan akidah dan syariah.
2.
Membangun kesadaran politik umat (wa’yu siyasi), yaitu membangun kesadaran
umat tentang bagaimana mereka memelihara urusannya dengan syariah Islam.
Sehingga akan muncul umat muslim yang punya kesadaran untuk berislam kaffah
karena tak rela hidup dengan hukum dan aturan yang bertentangan dengan syariat
Allah.
3.
Mengoreksi penguasa, kalo boleh dikatan
intelektual sebagai matanya umat. Imam al-Ghazali menyatakan: “Dulu tradisi orang-orang berilmu adalah
mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapakan hukum Allah SWT. Mereka
mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas dihati. Namun, sekarang terdapat
penguasa yang zhalim namun orang-orang berilmu hanya diam. Andaikata mereka
bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai
keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan
penguasa akibat kerusakan orang-orang berilmu. Adapun kerusakan orang-orang
berilmu akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapapun yang digenggam cinta
dunia niscaya tidak aka mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan
para penguasa dan para pembesar.” (Ihya ‘Ulumuddin, juz 7, hal. 92).
Bahkan, sejarah mencatat banyak sekali para sahabat perempuan (shahabiyah) yang
berilmu, lantang menyuarakan kebenaran kepada penguasa.
4.
Mengembangkan jaringan untuk makin
menyebarkan gagasan syariat islam dan Khilafah.
5.
Menjadi perekat ukhuwah umat islam
berdasarkan akidah.
6.
Membela, menjaga, dan mendukung upaya
penegakkan syariah dan khilafah serta para pejuangnya.
Sumber
:
ü hasil
reportase Konferensi Intelektual Muslimah; Catatan Intelektual Muslimah untuk
Bangsa (Jum’at 16 Desember 2011).
ü Forum
Rembug Aktivis se Surabaya.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar