Al Liwa' Ar Royah

Al Liwa' Ar Royah
kibarkan bendera Al Liwa' Ar Royah yang menyatukan Umat Muslim Seluruh DUNIA

Jumat, 10 Februari 2012


Sebenarnya apa yang terjadi pada Intelektual?
Generasi adalah asset terbesar dibanding dengan asset-aset Negara lain, terutama generasi intelektual.  Apabila generasi baik maka sebuah Negara akan maju karena memiliki calon pemimpin yang pandai dan cerdas. Namun, apa yang terjadi dengan generasi sekarang? Yang ada sekarang di tengah-tengah kita adalah generasi pragmatis yang lahir dari pendidikan yang pragmatis. Yang akhirnya absen dari visi negara berkembang.

Apa yang dipikirkan Intelektual sekarang??
Kalau saya boleh bertanya, kira-kira setelah kita lulus atau menyandang sebuah gelar,  pertanyaan yang sering muncul nich pada kita diantaranya, ”Sibuk apa? Kerjanya dimana? Atau gajihnya berapa?” Atau mungkin jauh-jauh hari sebelum kita menentukan program study saat mau kuliah, maka sering kali prospek kerja yang menjadi hal pertama dalam pertimbangan. Maka jangan kaget, jika akhirnnya tuntutan industry/perusahaan yang menderai cita-cita intelektual. Kalau boleh dikatakan sekarang  pragmatisme benar-benar semakin nyata, bercokol dibenak para intelektual.
Seharusnya sikap seorang intelektual itu menggunakan seluruh ilmunya untuk menjawab seluruh permasalahan masyarakat, “Sebenarnya masyarakat itu sekarang  masalahnya apa? butuh apa?”. Tapi yang ada saat ini, para intelektualnya sibuk berfikir “Perusahaan itu butuh apa?”. Betul nggak sich?! Dan pada akhirnya disadari ataupun tanpa disadari, dia sendiri yang menjadi pekerja barat yang notabennya perusahaan yang ada di indonesia adalah perusahaan asing. Mereka bukan lagi orang yang akan mengurusi rakyat.
Dan kalaupun ada intelektual yang ideal, yang ingin berkontribusi bagi masyarakat, namun pada sisi lain dia mengalami kesulitan mengakses teknologi, kesulitan mendanai riset karna pemerintah tidak memfasilitasinya. Dan pada akhirnya mereka mengatakan “Udahlah ngga’ usah ngarep-ngarep pemerintah!! Udalah yg penting kita bisa apa ya lakukan aja!.” Dan saking bencinya dengan kebijakan-kebijakan yang menghambat dia, untuk akhirnya berkontribusi, dia menciptakan sikap yang apolitis dia mengatakan, “Udalah politik itu kotor!hanya mengurusi kekuasaan.” Tidak cukup apolitis saja bahkan mereka juga bersikap apatis, merekapun cenderung focus pada keahlihannya, dan yang terjadi tanpa sadar dia yang menjadi pemadam kebakaran. Maksudnya apa? Lihat saja, minyak, tambang kita dikuasai, seluruh kekayaan alam kita dikuasai oleh asing, sampai-sampai tak sedikitpun tersisa untuk rakyat, dan yang alin ironisnya lagi rakyat mengemis sumber daya alam ditengah berlimpah ruahnya sumber daya alam Indonesia. Lalu intelektual berfikir keras untuk membuat energy terbaru sebagai penggantinya, mulai dari sumber gas, air laut, surya dan lain-lain. Akhirnya orang-orang yang menjual sumber daya alam mengatakan “Tenang ajalah ada ITS, ada IPB, ada para intelektual yang akan menyiapkan energy penggantinya. Kita kuasai dan eksploitasi habis-habisan saja sumber daya alamnya”.
Sekarang bayangkan saja, andaikata orang-orang intelektual tadi masuk dalam pemerintahan  dalam kondisi apolitis dan apatis, yang terjadi adalah mereka akan menghasilkan solusi-solusi yang ngga’ kalah pragmatis, yang membuat rakyat semakin menangis. Misakan, seorang intelektual butuh dana untuk riset, tidak ada duitnya(dalam artian pemerintah tidak mau mendanai) dengan alasan APBNnya kurang. Akhirnya  mereka(orang-orang yang masuk pemerintahan) yang membuka keran pemodal asing supaya masuk dan mereka sendirilah yang akan membuat undang-undang penanaman modal asing, dan mereka jugalah yang membuka gerbang untuk adanya penjajahan sumbur daya alam di bumi pertiwi ini. Dan sekarang bayangkan lihat blok cepu dikuasi Exon mobile, Emas kita di Papua dikuasai ole Freeport dan hanya 1 persen yang dikasihkan ke indonesia.
Sungguh sangat lucu sekali, masih ingat dengan SeaGames?? Lucu ngga’ sich!? Indonesia sibuk memperebutkan medali emas yang ngga' seberapa nilainya dibandingkan dengan gunung emas yang ada di Papua. Aneh kan!? Gunung emas ngga’ ada yang ngeributin, ngga’ ada upaya untuk merebutkannya. Tapi, emas yang secuil saja direbutkan, sampai dibela-belain. Lupakah!? Emas kita, batu bara kita, gas kita, minyak bumi kita yang dikuasai oleh asing!!.
Sebagaimana arus pragmatisme itu masuk dibenak-benak para intelektual, maka yang terjadi adalah kerusakan. Sehingga  kerusakan yang dilakukan oleh para intelektual itu akan membawa kerusakan yang luar biasa karna mereka pada dasarnya orang-orang yang pintar, orang-orang yang tau ilmunya tetapi ilmunya disalah gunakan.

Sadarlah Wahai Intelektual!!
                Abu Nu’aim menyatakan bahwa Nabi mengatakan, “Dua macam golongan manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah masyarakat. Tetapi, apabila keduanya rusak maka akan rusaklah masyarakat itu. Kedua golongan manusia itu adalah orang-orang yang berilmu(termasuk intelektual) dan penguasa.” Karenanya, intelektual harus memerankan diri dalam rangka kebaikan masyarakat, termasuk meluruskan penguasa dan menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah.
                Diantara aktivitas yang dapat diperankan intelektual adalah :
1.       Mengedukasi umat. Intelektual terus melakukan pembinaan di tengah-tengah umat sehingga muncul orang-orang yang berkepribadian islam. Umat dibina perilakunya dengan ilmu yang dimilikinya dipraktikkan dan selalu dikaitkan dengan akidah dan syariah.
2.       Membangun kesadaran politik umat (wa’yu siyasi), yaitu membangun kesadaran umat tentang bagaimana mereka memelihara urusannya dengan syariah Islam. Sehingga akan muncul umat muslim yang punya kesadaran untuk berislam kaffah karena tak rela hidup dengan hukum dan aturan yang bertentangan dengan syariat Allah.
3.      Mengoreksi penguasa, kalo boleh dikatan intelektual sebagai matanya umat. Imam al-Ghazali menyatakan: “Dulu tradisi orang-orang berilmu adalah mengoreksi dan menjaga penguasa untuk menerapakan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas dihati. Namun, sekarang terdapat penguasa yang zhalim namun orang-orang berilmu hanya diam. Andaikata mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa akibat kerusakan orang-orang berilmu. Adapun kerusakan orang-orang berilmu akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapapun yang digenggam cinta dunia niscaya tidak aka mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan para penguasa dan para pembesar.” (Ihya ‘Ulumuddin, juz 7, hal. 92). Bahkan, sejarah mencatat banyak sekali para sahabat perempuan (shahabiyah) yang berilmu, lantang menyuarakan kebenaran kepada penguasa.
4.      Mengembangkan jaringan untuk makin menyebarkan gagasan syariat islam dan Khilafah.
5.      Menjadi perekat ukhuwah umat islam berdasarkan akidah.
6.      Membela, menjaga, dan mendukung upaya penegakkan syariah dan khilafah serta para pejuangnya.

Sumber :
ü  hasil reportase Konferensi Intelektual Muslimah; Catatan Intelektual Muslimah untuk Bangsa (Jum’at 16 Desember 2011).
ü  Forum Rembug Aktivis se Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar